Cara Berbisnis Menurut Syari’ah

D alam berbisnis menurut ajaran agama Islam biasa disebut dengan cara syari’ah. Berbagai gambaran kasar pasti anda telah dengar tentang cara aturan main dalam sistem bisnis menurut syari’ah. Terlebih lagi bagi anda yang sangat ingin menerapkan cara syari’ah dalam usaha yang anda jalankan.

Bagaimana menerapkan cara binis menurut syari’ah tersebut? Apa saja yang harus anda lakukan sebagai pengusaha bila menerapkan usaha yang mengacu pada perilaku bisnis syari’ah? Berikut ulasan yang akan dipaparkan hukum123 tentang cara berbisnis menurut syari’ah Islam.

Ajaran agama Islam mengajarkan untuk tekun bekerja dan selalu berusaha, selain kewajiban beribadah. Hal tersebut ditopang oleh catatan sejarah dari Rasulullah S.A.W yang bermata pencaharian sebagai seorang pedagang atau pebisnis. Dalam segi ini secara singkat bisa kita ikuti untuk acuan pedoman dalam menjalankan bidang usaha yang ditekuni.

Definisi dari pengertian bisnis syari’ah Islam adalah segala bentuk bisnis yang dibatasi oleh cara mendapatkan dan menggunakan harta atau pendapatan agar selalu halal dan menolak hal-hal yang bersifat haram. Kita mengenal hal ini dengan tindakan memberi pinjaman tanpa memberi bunga pada pihak peminjam. Bunga dalam ajaran agama adalah sesuatu yang bukan hak untuk kita terima. Maka dari itu, sesuatu yang bukan hak kita bersifat haram. Sebaik-baiknya pembayar pinjaman uang adalah yang bisa melebihkan nominalnya tanpa kesepakatan perjanjian waktu pengembalian. Syari’ah secara garis besar mengajarkan untuk berperilaku tanpa pamrih atau dengan kata lain pengusaha mendapatkan keuntungan tanpa menghalalkan segala bentuk cara guna meningkatkan laba.

Selain itu adalah sistem bagi hasil yang adil. Sebagai seorang pebisnis atau pengusaha, dalam cara bisnis syari’ah dituntut untuk memberi gaji atau upah pada karyawannya tanpa harus ditangguhkan. Dengan kata lain, pengusaha itu berhutang satu bulan terhadap kinerja para karyawannya apabila sistem penggajian karyawan dibagikan dalam setiap bulan. Hal tersebut merunut pada ajaran Rasulullah S.A.W untuk membayar upah kepada para karyawan sebelum keringatnya kering.

Apabila bagi hasil dengan penghasilan bersih, maka anda sebagai pengusaha harus transparan atau terbuka dengan para karyawan. Begitu pula dengan penghasilan kotor, tranparansi anda dengan karyawan yang dapat dikatakan adil. Dari sisi itu, sistem bagi hasil yang anda lakukan sebagai pengusaha kepada para karyawan dapat dikatakan adil. Adil ini diartikan bukan dengan sistem bagi rata, tetapi harus seimbang antara hak dan kewajiban.

Demikian cara berbisnis menurut syari’ah dalam gambaran pengertian umum sistem ekonomi bisnis Islam. Cara dan aturan main haruslah berpedoman pada sistem bagi hasil yang adil kepada para karyawan serta segala batasan-batasan yang menjauhkan kita dalam hukum haram mendapatkan keuntungan. Semoga dapat memberikan manfaat dan kesuksesan kepada anda yang ingin menerapkan pada bidang usaha yang dikelola.

 

(AH)