Ketika Surat Kontrak Sulit Dipahami

S urat kontrak merupakan sesuatu yang paling vital dan mendasar dalam suatu perjanjian. Surat yang biasa ditandatangani diatas materai ini berisi klausul atau ketentuan yang mengatur seluruh pihak yang terlibat didalam perjanjian tersebut. Mulai dari hak, kewajiban, hingga sanksi diatur dalam surat kontrak ini. Oleh karena itu surat kontrak harus dibuat sejelas mungkin dan harus dipastikan juga kalau setiap pihak yang terlibat didalam kontrak tersebut telah mengerti keseluruhan isi dari surat kontrak yang mereka sepakati. Surat kontrak yang sulit dipahami tentu dapat membuka peluang salah tafsir dan mispersepsi yang pastinya dapat menimbulkan sengketa dikemudian hari.

Namun apa jadinya kalau surat kontrak yang sudah kita tandatangani ternyata sulit dipahami? Bukankah kontrak tersebut tidak bisa diubah begitu saja sewaktu kita merasa kesulitan dalam memahami isinya?

Terkait akan hal ini setidaknya Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengaturnya kedalam 5 pasal yang apabila disarikan dapat kita lihat dalam 5 kasus sebagai berikut.

Terdapat Kata-kata Multitafsir

Apabila dalam surat kontrak terdapat kata-kata yang memberikan berbagai penafsiran, maka sesuai pasal 1343 KUH Perdata harus dilakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap maksud dari kata-kata tersebut kepada para pihak yang terlibat dalam perjanjian itu. Terutama kepada pihak yang membuat pasal perjanjian tersebut.

Terdapat Janji Multitafsir

Jika terdapat janji yang multitafsir maka harus dicari pengertian yang paling memungkinkan untuk dilakukan dengan syarat tidak melanggar ketentuan lain yang terdapat didalam surat kontrak tersebut (pasal 1344 KUH Perdata).

Contohnya terdapat pasal yang menyatakan bahwa pihak pertama menjanjikan pemberian saham kepada pihak kedua apabila pihak kedua berhasil mencapai target tertentu. Akan tetapi dalam surat kontrak tersebut juga terdapat klausa yang menyatakan bahwa saham minimal yang harus dimiliki pihak pertama sebesar 50%. Maka dalam hal ini walaupun pihak kedua menorehkan keuntungan yang sangat besar melampaui target ia tetap tidak boleh mendapatkan saham lebih dari 50%.

Terdapat Kata yang Mengandung Dua Arti

Jika terdapat kata-kata yang mengandung dua macam pengertian, maka pengertian yang dipilih ialah yang paling selaras atau sesuai dengan sifat-sifat perjanjian tersebut (pasal 1345 KUH Perdata).

Muncul Keraguan Akan Penafsiran (I)

Apabila muncul keraguan saat menafsirkan isi surat kontrak, maka penafsiran isi kontrak tersebut harus disesuaikan menurut kebiasaan yang berlaku di negara tempat pembuatan kontrak tersebut (pasal 1346 KUH Perdata). Jika perjanjian tersebut dibuat di Indonesia tentu harus mengikuti norma-norma sosial dan adat kebiasaan yang berlaku di Indonesia.

Muncul Keraguan Akan Penafsiran (II)

Adapun apabila keraguan yang muncul tidak dapat ditafsirkan sesuai kebiasaan yang berlaku di negara teresbut, maka isi perjanjian tersebut harus ditafsirkan atas 2 hal, yakni kerugian orang yang diberi janji (diperjanjikan) dan keuntungan orang yang menjanjikan (pasal 1349 KUH perdata).