Mengenal Risiko, Wanprestasi, dan Keadaan Memaksa

S ebuah perjanjian atau kontrak sejatinya tidak akan pernah lepas dari 3 hal, yakni risiko, wanprestasi, dan keadaan memaksa. Sayangnya ketiga hal ini sering tidak diatur didalam suatu pernjajian. Padahal suatu saat bisa saja terjadi keadaan memaksa, atau bisa saja suatu pihak menjadi wanprestasi, atau mungkin seluruh pihak tiba-tiba diharuskan menanggung risiko bersama. Apa sih sebenarnya ketiga hal tersebut?

Risiko

Salah seorang ahli hukum Indonesia, Soebekti (2001), mengatakan bahwa risiko berarti kewajiban untuk memikul suatu kerugian jika kerugian tersebut terjadi diluar kesalahan yang dilakukan oleh salah satu pihak. Atau dengan kata lain risiko ialah kerugian yang harus ditanggung karena terjadinya suatu kejadian yang bukan merupakan kesalahan dari salah satu pihak. Misalnya suatu barang yang berada dalam perjanjian musnah ditengah perjalanan karena truk yang mengangkut terbakar, atau kapal yang mengangkut tenggelam di lautan. Maka dalam hal ini, pihak-pihak yang berkepentingan didalam perjanjian tersebut akan menanggung risiko dari hal yang terjadi diluar kesalahan suatu pihak tersebut.

Wanprestasi

Wanprestasi ialah keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya ketentuan/kewajiban didalam kontrak oleh salah satu pihak. Wanprestasi ini dapat berupa:

  1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan,
  2. Melaksanakan sesuatu tidak sesuai dengan yang dijanjikan,
  3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat, serta
  4. Melakukan sesuatu yang dilarang oleh kontrak.

Keadaan wanprestasi dari salah satu pihak biasanya akan menimbulkan sanksi bagi pihak tersebut yang dapat berupa ganti rugi (yang diderita oleh pihak lain dalam perjanjian), pembatalan kontrak atau pemecahan perjanjian, peralihan risiko (memindahkan risiko dari suatu pihak ke pihak lain), ataupun pembayaran biaya perkara (apabila hal ini sampai diperkarakan ke pengadilan).

Keadaan Memaksa

Adapun keadaan memaksa ialah terjadinya suatu keadaan yang menyebabkan suatu pihak tidak berhasil memenuhi kewajibannya (menjadi wanprestasi). Hal ini biasa ditemukan apabila terjadi sesuatu yang diluar kekuasaan para pihak yang berada didalam perjanjian atau terjadi sesuatu yang tidak dapat diketahui sebelumnya.

Keadaan memaksa pun dapat digolongkan berdasarkan sifatnya. Ada keadaan memaksa yang bersifat mutlak / absolut, misalnya terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dll. Ada pula keadaan memaksa yang bersifat tidak mutlak / relatif, terjadi perubahan harga yang signifikan akibat inflasi diluar kendali atau terjadinya krisis ekonomi.

Ketiga hal tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Keadaan memaksa membuat suatu pihak menjadi wanprestasi dan karena ada pihak yang wanprestasi inilah muncul suatu risiko yang perlu ditanggung. Oleh karenanya sebelum menjalankan suatu perjanjian alangkah baiknya apabila hal-hal yang berkaitan dengan risiko, wanprestasi, serta keadaan memaksa ini didiskusikan dan disepakati untuk selanjutnya disisipkan secara jelas didalam perjanjian.