Menghadapi Pelaku Wanprestasi

A dakalanya kontrak yang kita buat tidak dapat terwujud sepenuhnya sesuai kenyataan. Bukan karena kontrak tersebut kurang bagus, melainkan adanya pihak perjanjian yang melakukan tindakan wanprestasi sehingga kita harus menanggung kerugian. Apabila kita yang berada didalam posisi ini, bagaimanakah cara menghadapinya? Simak ulasan Hukum123 berikut.

1: Memastikan Bahwa Anda telah Menjadi Korban Wanprestasi

Langkah pertama yang perlu Anda lakukan tentu memastikan bahwa Anda memang telah menjadi korban wanprestasi. Tandanya ialah pihak partner bisnis Anda telah gagal memenuhi prestasi yang semestinya sesuai kontrak. Misalnya dalam kontrak disebutkan bahwa partner Anda harus mengirimkan barang sejumlah 500 akan tetapi pada kenyataannya ia hanya mengirimkan barang sejumlah 300 hingga waktu kontrak berakhir. Maka dalam kasus ini Anda telah jelas menjadi korban wanprestasi.

2: Memberikan Surat Peringatan

Setelah Anda yakin bahwa Anda telah menjadi korban wanprestasi, langkah selanjutnya ialah mengirimkan surat peringatan kepada pelaku wanprestasi tersebut. Anda memang bisa memberikan peringatan tanpa melayangkan surat tertulis akan tetapi surat tertulis ini nantinya bisa Anda gunakan di pengadilan apabila kasus tersebut harus dibawa ke ranah hukum. Surat peringatan ini berisi tuntutan agar mereka memenuhi kewajibannya dalam rentang waktu tertentu. Rentang waktunya bisa Anda tentukan sendiri atau dengan mempertimbangkan kesanggupan dari pelaku wanprestasi tersebut.

3: Menjatuhkan Sanksi

Dalam kasus pihak tersebut masih tidak mampu memenuhi kewajibannya setelah diberikan surat peringatan, maka kita dapat memberikannya sanksi. Sanksi bagi pelaku wanprestasi dapat bervariasi. Misalnya pihak tersebut diwajibkan membayar kerugian yang telah kita derita. Contoh sanksi lain misalnya melakukan peralihan risiko sehingga seluruh kerugian yang muncul dibebankan kepada pihak tersebut. Pembatalan perjanjian dan pembayaran biaya perkara di pengadilan juga termasuk kedalam sanksi yang bisa diberikan.

Adapun bentuk sanksi yang paling umum digunakan ialah tuntutan ganti rugi. Korban wanprestasi dapat meminta penggantian atas seluruh kerugian yang ditimbulkan, mulai dari biaya yang benar-benar telah dikeluarkan (kosten), kehilangan keuntungan (interessen), hingga penggantian keuntungan yang semestinya didapat apabila pihak tersebut tidak melakukan wanprestasi (winstderving). Apabila pemutusan sanksi ini sulit untuk dilakukan barulah kita bisa menempuh jalan pengadilan.

4: Membawa Perkara ke Pengadilan

Apabila ketiga cara diatas masih menemui jalan buntu, maka tak ada salahnya apabila Anda membawa perkara tersebut ke pengadilan. Pengadilan nantinya akan memutuskan apakah tuntutan kita terhadap si pelaku dapat dikabulkan atau tidak. Surat kontrak dan surat peringatan akan menguatkan tuntutan kita pada tahap ini maka dari itu simpanlah dokumen tersebut sebaik mungkin. Wanprestasi adalah masalah yang masuk kedalam ranah perdata, yakni ranah yang melibatkan hubungan sesama warga negara, bukan hubungan antara negara dengan warganya. Oleh karena itu Anda tidak akan dapat menuntutnya untuk dipidanakan begitu saja ketika pihak tersebut melakukan kelalaian.