Perbedaan Penipuan dan Wanprestasi

P enipuan dan wanprestasi merupakan dua istilah dalam dunia bisnis yang serupa tapi tak sama. Dikatakan serupa karena keduanya jelas menimbulkan kerugian bagi pihak tertentu. Akan tetapi sekaligus juga dikatakan tak sama karena keduanya memang memiliki perbedaan yang cukup jelas. Penipuan termasuk kedalam hukum pidana sementara wanprestasi termasuk kedalam hukum perdata. Artinya bahwa kasus penipuan merupakan kasus yang melibatkan warga negara dengan negara sementara wanprestasi merupakan kasus yang melibatkan sesama warga negara saja tanpa melibatkan negara.

Adapun jenis perbuatan yang dapat digolongkan sebagai penipuan, sesuai pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), setidaknya harus memenuhi dua unsur sebagai berikut.

  1. Perbuatan tersebut disengaja, terdapat orang yang digerakkan, ditujukan kepada orang lain (seperti menyerahkan benda, memberi hutan dan menghapus piutang), dilakukan dengan memakai nama palsu, memakai tipu mulihat, memakai martabat palsu, dan memakai rangkaian kebohongan.
  2. Perbuatan tersebut menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum yang berlaku.
    Tindakan apapun yang memenuhi kategori diatas sudah pasti digolongkan kedalam penipuan. Tak peduli siapapun pelakunya ia harus menerima tindakan pidana yang dibebankan kepadanya. Sanksi pidana untuk pelaku penipuan memang bervariasi tetapi umumnya pidana penjara maksimal yang diberikan paling lama empat tahun.

Adapun wanprestasi pada dasarnya merupakan kelalaian dari salah satu pihak dalam memenuhi prestasi yang telah ditentukan dalam sebuah perjanjian. Pihak yang melakukan wanprestasi tidak dapat dikenakan hukuman pidana karena hal ini merupakan ranah hukum perdata. Akan tetapi sanksi jelas tetap ada dan harus berlaku bagi pelaku wanprestasi. Umumnya sanksi atau gugatan yang dikenakan kepada pelaku wanprestasi ialah sebagai berikut.

  1. Pemenuhan perjanjian.
  2. Pemenuhan perjanjian dengan disertai ganti kerugian.
  3. Ganti kerugian.
  4. Pembatalan perjanjian timbal balik.
  5. Pembatalan perjanjian dengan disertai ganti kerugian.

Sekarang misalnya terdapat contoh kasus sebagai berikut. Suatu agen penjualan melakukan perjanjian pengadaan barang dari perusahaan X. Dalam surat perjanjian yang telah disepakati diawal dituliskan bahwa barang yang harus dikirimkan oleh perusahaan X ialah barang kualitas A sejumlah 300 barang setiap bulannya. Sayangnya pada bulan Maret perusahaan X hanya mengirimkan 240 barang kualitas A. Maka kasus ini tergolong kedalam kasus wanprestasi sehingga agen penjualan yang bersangkutan diperbolehkan mengirimkan gugatan kepada perusahaan X atas kelalaiannya dalam memenuhi prestasi tersebut.

Lain halnya bila perusahaan X berhasil mengirimkan 300 barang tetapi bukan kualitas A melainkan kualitas C yang dikemas dalam kemasan kualitas A. Dalam hal ini perusahaan X bisa dikatakan telah melakukan penipuan karena telah memenuhi syarat-syarat penipuan seperti melakukan tipu muslihat, memakai kebohongan, menguntungkan diri sendiri, ditujukan kepada orang lain, disengaja, dll. Dalam kasus ini agen penjualan yang bersangkutan boleh mengajukan gugatan pidana kepada perusahaan X atas penipuan yang telah dilakukan.

Mengetahui perbedaan antara penipuan dan wanprestasi termasuk hal yang penting dalam suatu perjanjian. Jangan sampai kita melakukan pengaduan hukum atas masalah wanprestasi. Begitupun jangan sampai kita membiarkan perbuatan penipuan terjadi begitu saja dan hanya digugat tanpa proses hukum.