Perjanjian Sewa Properti

D alam menjalankan kegiatan usaha, pastinya Anda mempunyai kebutuhan untuk menyewa suatu bangunan rumah atau toko untuk dijadikan tempat kegiatan usaha Anda. Hal ini akan memiliki kegunaan penting jika Anda mendapatkan lokasi tempat penyewaan yang dianggap strategis guna menjalankan bisnis Anda. Dapat dibayangkan jika tempat penyewaan toko Anda berlokasi di tempat yang sulit dijangkau orang banyak dan tidak strategis, pasti akan menyulitkan pelanggan untuk mendatangi alamat kegiatan bisnis Anda. Pada kali ini Hukum123 akan memaparkan beberapa hal yang dianggap penting tentang perjanjian sewa properti.

#1. Subyek (Para Pihak)

Sebelum menandatangani sebuah perjanjian sewa properti, misalnya rumah, apertemen, ruko, gudang, dan lain-lain, terlebih dahulu harus mengetahui siapa saja pihak-pihak yang ada dalam perjanjian tersebut. Selain pihak penyewa dan pemilik properti, terdapat pihak pengelola yang merupakan orang kepercayaan pemilik untuk mengelola bisnis propertinya.

Pengelola juga kadang kala diberikan wewenang oleh pemilik untuk menandatangani perjanjian sewa properti. Sebelum itu, pengelola harus mendapatkan kuasa dari pemilik yang pada umumnya dibuktikan dengan surat kuasa.

#2. Obyek Sewa (Properti)

Dalam perjanjian sewa properti harus jelas pula tanah tempat di mana properti itu didirikan. Pihak penyewa perlu memastikan terlebih dahulu sertifikat tanah dari properti tersebut atas nama pemiliknya atau tidak. Jika tanah tempat properti berdiri belum memperoleh sertifikat, penyewa perlu memeriksa surat lain yang menjelaskan bahwa tanah tersebut atas nama pemiliknya lewat Surat Keterangan Tanah. Selain itu, lingkup yang perlu Anda ketahui dalam melakukan perjanjian sewa properti adalah jangka waktu sewa dan biaya sewa properti.

Jangka Waktu Sewa

Dalam perjanjian sewa, jangka waktu sewa perlu tercantum secara jelas. Kapan mulai penyewaan dan kapan waktu berakhir dari penyewaan properti tersebut. Para pihak dapat melakukan kesepakatan masa tenggang dalam klausul jangka waktu sewa, misalkan selambat-lambatnya 3 minggu setelah berakhirnya masa sewa maka pihak penyewa harus sudah mengosongkan properti.

Biaya Sewa

Biaya dari pernyewaan perlu tercantum secara jelas dalam perjanjian, berapa besar nominal biaya penyewaan dan apa saja yang didapat dari penyewaan sebuah properti, misalkan biaya air, listrik, keamanan, pajak bumi bangunan, parkir, dan lainnya.

Anda juga perlu memastikan tidak adanya uang deposit dalam perjanjian sewa. Uang deposit ini merupakan uang jaminan untuk melunasi kewajiban pihak penyewa di akhir waktu apabila penyewa mempunyai kewajiban yang belum dilunasi.

  • Renovasi dan Perbaikan

Perjanjian sewa properti ada baiknya memuat klausul tentang tanggung jawab perbaikan dan renovasi properti. Bagi perbaikan kecil seperti adanya kerusakan gagang pintu, keran air, jendela dan lain-lainnya akan menjadi tanggung jawab pihak penyewa. Bagi kerusakan besar, misalkan kerusakan dalam konstruksi bangunan pada umumnya akan menjadi tanggung jawab pihak pemilik, kecuali kerusakan tersebut karena kesalahan langsung dari pihak penyewa.