Sistem Distribusi Pemasaran Produk

P eran distributor dalam pemasaran sangat memiliki andil yang besar bagi distribusi produk perusahaan. Sering muncul pula anggapan bahwa penguasa pasar itu bukanlah seorang produsen tetapi distributor. Hal ini terjadi karena tanpa distributor produsen tidak akan mampu bersaing dengan para kompetitornya. Bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis tanpa kehadiran retail-retail yang tersebar jumlahnya, mungkin tidak dapat menjangkau konsumen secara luas.

Perihal pentingnya distributor dalam pemasaran produk sebuah perusahaan mempunyai konteks yang berbda-beda, tergantung pada berbagai faktor seperti jenis produk yang diusahakan, pola konsumsi masyarakat serta cakupan pasar yang ingin dijangkau oleh pihak produsen. Banyak perusahaan ternama yang memiliki relasi kaloborasi dengan pasar-pasar swalayan yang ada sehingga baik pihak pasar swalayan maupun perusahaan tersebut mendapatkan profit yang tinggi karena adanya kaloborasi kerjasama ini.

Pada kali ini hukum123 memaparkan secara eksplisit beberapa sistem distribusi yang dilakukan perusahaan-perusahaan secara umum. Berikut sistem distribusi yang biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sebagai pihak produsen.

            Pertama, pihak produsen menjual produknya ke agen tunggal, kemudian agen tunggal mendistribusikan produk itu ke berbagai sub agen yang tersebar di berbagai kota. Biasanya agen tunggal ini dimiliki oleh pihak produsen. Sub agen kemudian menyalurkan produk tersebut ke pedagang grosir lalu diserah kepada pihak retailer. Retailer inilah yang akan menjual langsung kepada toko-toko yang ada. Sistem ini paling banyak digunakan di Indonesia dalam proses distribusi barang.

            Kedua, pada sistem ini peran tidak adanya peran dari sub agen. Jadi, agen tunggal langsung menyalurkan melalui pedagang grosir. Dalam cara ini, agen tunggal biasanya membuat sejumlah cabang sendiri di kota-kota besar. Sistem ini digunakan untuk mengendalikan distribusi di kota-kota besar dapat dilakukan sepenuhnya pada agen tunggal. Keberhasilan distribusi metode ini sangat ditentukan oleh distributor nasional lewat jaringan cabangnya yang tersebar di kota-kota besar.

            Ketiga, pihak produsen melalui agen tunggal melakukan penjualan langsung. Sistem distribusi ini sangat cocok untuk produk dengan frekuensi pemakain yang sering dan tingkat persaingan di retail pasar swalayan sangat ketat serta distribusi yang intens. Dalam sisi lain, metode ini membutuhkan investasi dan biaya dengan nominal besar dalam sarana transportasi, akomodasi pergudangan dan pengupahan tenaga penjual.

            Keempat, sistem ini mengandalkan pemasaran langsung produk kepada konsumen tanpa melalui pihak retailer. Cara ini dikenal dengan sistem distribusi non-store distribution atau distribusi tanpa sebuah toko. Biasanya cara diterapkan oleh perusahaan-perusahaan direct marketing, termasuk di dalamnya adalah Multi Level Marketing (MLM). Kelima, pihak produsen menyalurkan produknya melalui berbagai jaringan toko yang dimiliki.

Dapat kita ketahui peran distributor serta posisinya dalam strategi pemasaran. Dengan tujuan mendukung kerjasama yang lebih erat antara produsen dan distributor, perusahaan-perusahaan umumnya mengembangkan pola kerjasama dalam sistem distrubusi. Di sisi lain, untuk mengurangi ketergantungan yang besar kepada distributor tertentu, pihak produsen bisa mengembangkan relasi multi-channel agar tidak tergantung kepada distributor nasional tertentu.

 

(AH)