Tempat Sewa Dijual Pemilik Sebelum Masa Sewa Berakhir

M enyewa lahan merupakan cara yang paling banyak dilakukan demi memiliki sebuah tempat usaha. Pasalnya lahan jual semakin terbatas dan kalaupun ada harganya terlalu mahal. Opsi menyewa tempat jelas lebih menguntungkan secara ekonomis. Akan tetapi permasalahan yang sering dihadapi adalah proses sewa menyewa ini sering berlangsung tak seideal yang diharapkan. Ada saja masalah-masalah kecil yang kerap terjadi.

Masalah ini bahkan tak hanya berasal dari pihak penyewa tetapi juga bisa berasal dari pihak pemilik. Misalnya pemilik menjual tempat sewa yang sedang kita sewa sebelum masa sewa kita berakhir. Kondisi semacam ini tentu membingungkan pihak penyewa dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi pihak penyewa. Jika Anda berada didalam posisi ini, bagaimana cara mengatasinya?

Dalam pasal 1576 KUH Perdata disebutkan bahwa:

“Dengan dijualnya barang yang disewa, suatu persewaan yang dibuat sebelumnya tidaklah diputuskan kecuali apabila ini telah diperjanjikan pada waktu menyewakan barang”

Dari pasal tersebut jelas bahwa perjanjiian sewa menyewa tidak bisa terputus begitu saja karena proses jual beli lahan sewa. Oleh karena itu walaupun lahan yang sedang Anda sewa sudah dijual, Anda masih bisa menjalankan usaha tersebut dengan berpegangan kepada pasal ini. Pasal 1576 KUH Perdata jelas melindungi kepentingan pihak penyewa agar tidak dirugikan oleh pihak pemilik.

Sekarang permasalahannya ialah bagaimana apabila pemilik yang baru meminta Anda untuk segera meninggalkan lahan sewa tersebut. SIkap apa yang seharusnya kita ambil? Dalam hal ini dapat kita lihat dengan 2 sudut pandang kasus.

1: Apabila pasal jual beli lahan sewa terdapat pada kontrak perjanjian.

Dalam kasus ini tentu kita wajib mengikuti apa-apa yang sudah tertuang didalam kontrak. Semisal didalam kontrak disebutkan bahwa kita harus menaati aturan pemilik yang baru ketika lahan tersebut dijual maka kita pun harus menaatinya. Kontrak telah kita tandatangani di awal yang menandakan kita telah sepakat atas semua pasal yang termaktub didalamnya. Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mencermati setiap pasal yang terdapat didalam kontrak perjanjian.

2: Apabila pasal jual beli lahan sewa tidak terdapat pada kontrak perjanjian.

Adapun dalam kasus ini kita dapat memperlakukan pemilik tersebut sebagai pelaku wanprestasi karena kita telah mengalami kerugian atas tindakannya yang tidak semestinya. Kita dapat melakukan negosiasi dengan pemilik lama tempat sewa tersebut atau langsung melayangkan tuntutan ke pengadilan. Tuntutan yang dapat kita ajukan sesuai pasal 1426 KUH Perdata adalah berupa:

  • Kerugian nyata yang telah diderita.
  • Keuntungan yang seharusnya diperoleh jika kasus ini tidak terjadi.
  • Biaya lain yang mungkin timbul dari tindak wanprestasi si pemilik.

Umumnya sanksi ini menjadi pilihan terakhir. Tuntutan utama yang biasa dilayangkan oleh pihak penyewa adalah meminta kesempatan kepada pemilik baru agar penyewa tersebut dapat menyelesaikan seluruh masa kontraknya sesuai kesepakatan awal. Penyewa juga dapat menuntut hal ini dan pembayaran ganti rugi secara bersamaan. Tinggal bagaimana pengadilan memberikan putusan nantinya kepada masing-masing pihak.