Tindakan Tanpa Melanggar Hak Cipta

H ak Cipta merupakan bagian dari Hak Atas Kekayaan Intelektual. Hal tersebut diatur dalam undang-undang serta hukum yang berlaku. Terhadap hak cipta yang dilindungi, publikasi dan perbanyakan ciptaan itu termasuk pelanggaran hak cipta. Pasti anda berusaha berpikir bagaimana tindakan serta perbuatan agar tak melanggar hak cipta apabila anda membutuhkan karya tersebut untuk berbagai keperluan.

Terdapat beberapa hasil karya budaya manusia yang dalam segi publikasi dan perbanyaknya atau kopiannya tidak merupakan pelanggaran atas hak cipta. Jadi, anda atau orang banyak dapat dengan bebas mempublikasikan, menggunakan, dan memperbanyak hasil karya tersebut. Dalam pembahasan kali hukum123 menguraikan apa saja perbuatan yang dianggap tidak melanggar hak cipta.

Lagu kebangsaan yang dinyanyikan menurut sifat aslinya tak dianggap melanggar hak cipta. Dengan tanpa mengubah lirik, syair, nada, serta komposisi lagu yang ada untuk dinyanyikan atau dipentaskan, takkan dianggap melanggar hak cipta bila digunakan menurut keaslian dari karya tersebut tanpa diubah-ubah.

Selain itu, hasil karya apapun yang dipublikasikan oleh Pemerintah, kecuali bila hak cipta atas karya-karya itu dinyatakan dilindungi, dapat digunakan untuk keperluan yang tak semata-mata dalam menguntungkan diri sendiri atau dengan kata lain bagi keperluan bidang ilmu pengetahuan atau sejenisnya.

Berita dari sebuah media, baik yang berasal dari siaran radio atau televisi dan surat kabar media cetak bukan merupakan pelanggaran hak cipta bila anda memakainya setelah lewat dari waktu 24 jam setelah berita tersebut diumumkan pertama kali. Dalam hal ini, anda dapat menggunakannya dengan syarat menyebut sumber bertita tersebut secara lengkap guna menjaga keaslian dari media yang membuat pemberitaan.

Syarat yang harus disebutkan secara lengkap memang harus dilakukan agar tak ada kekaburan refrensi serta karya hak cipta yang akan dipakai untuk keperluan. Selain itu, ada beberapa jenis tindakan yang tak dianggap melanggar hak cipta, diantaranya yaitu :

  1. Pengutipan ciptaan pihak lain sebanyak-banyaknya 10% dari kesatuan tiap ciptaan yang dikutip. Hal ini digunakan sebagai bahan untuk menguraikan masalah yang dikemukakan.
  2. Mengambil ciptaan pihak lain, baik seluruh atau sebagian, untuk keperluan pembelaan di dalam atau di luar pengadilan.
  3. Mengambil ciptaan pihak lain, baik seluruh atau sebagian, guna keperluan seminar atau workshop yang bertujuan untuk edukasi serta ilmu pengetahuan dan pertunjukan atau pementasan yang diadakan tanpa dipungut bayaran (free entry).
  4. Menggunakan kopian suatu ciptaan dalam bidang ilmu, seni dan sastra dalam huruf braile untuk keperluan para tuna netra. Hal ini mendapat pengecualian jika ciptaan tersebut bersifat komersial.
  5. Merubah karya arsitektur seperti ciptaan bangunan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis. Misalkan, menurut gambar sketsa bangunan karya cipta arsitektur, pembangunan sebuah balkon terlalu rendah maka harus ditinggikan. Tindakan ini tak sesuai dengan gambar sketsa bangunan yang telah ada. Oleh karena itu, adanya penyebab dibuka kemungkinan untuk mengadakan perubahan atas dasar pertimbangan teknis.

 

(AH)