Tips Berbisnis dengan Pihak Asing

B isnis masa kini tak hanya melibatkan orang-orang dalam satu kota yang sama. Berkat perkembangan teknologi masa kini bisnis juga dapat dilakukan antar kota, antar pulau, bahkan antar negara. Bisnis antar negara bahkan tak hanya mampu dilakukan oleh perusahaan multinasional. Perusahaan kecil dan menengah seperti industri barang kerajinan, pengusaha makanan daerah, dan pemasok pakaian tradisional juga sudah mulai banyak yang melakukan kegiatan ekspor impor antar negara.

Bisnis antar negara umumnya tak dapat langsung berjalan dengan mudah. Faktor-faktor penghalang seperti perbedaan budaya dan perbedaan bahasa nyatanya kerap menjadikan bisnis antar negara ini menjadi kurang produktif. Padahal bisnis antar negara yang dilakukan semestinya dapat memberikan keuntungan yang lebih besar karena memiliki cakupan yang lebih luas. Lantas bagaimanakah cara mengoptimalkan bisnis dengan pihak asing ini? Simak tips-tipsnya sebagai berikut.

Tips #1: Gunakan Dua Bahasa dalam Kontrak

Demi menghindari perbedaan penafsiran ada baiknya surat kontrak perjanjian tersebut dibuat dalam dua atau lebih bahasa sesuai bahasa utama yang digunakan oleh masing-masing pihak. Gunakanlah jasa penerjemah yang dapat dipercaya. Jikalau perlu penerjemah tersebut dapat diambil sumpahnya untuk tidak mengubah makna apapun yang tercatat pada dokumen surat kontrak asli.

Tips #2: Pahami Budaya Asal Partner Bisnis Anda

Apabila partner bisnis Anda berasal dari luar negeri tentu menjadi cukup penting bagi Anda untuk memahami budaya asal pihak tersebut. Dengan memahami budaya asalnya kita dapat mengerti pola pikir dan kecenderungan bertindak dari pihak tersebut. Hal ini sangat baik untuk dilkuk mengingat perselisihan biasa terjadi karena salah satu pihak gagal memahami tindakan yang diambil oleh pihak partnernya dalam perjanjian.

Tips #3: Jeli Terhadap Aspek Hukum

Kontrak bisnis yang melibatkan pihak-pihak dari negara berbeda sesungguhnya tidak berlaku atas dasar hukum dari salah satu pihak saja. Lazimnya dipilih hukum yang berlaku di tempat dimana perjanjian tersebut dibuat. Oleh karena itu baiknya juga dipilih notaris dan wawancara dari tempat yang sama dengan tempat pembuatan perjanjian tersebut. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mempermudah akses hukum dan menjamin adanya kepastian hukum bagi setiap pihak.

Apabila suatu saat terjadi sengketa maka penyelesaiannya juga harus mengikuti hukum yang berlaku di tempat dibuatnya perjanjian tersebut. Umumnya penyelesaian sengketa bisnis antar negara lebih banyak menggunakan metode arbitrase daipada negosiasi. Negosiasi biasanya dihindari karena lebih rentan membuat situasi yang ada menjadi bertambah rumit. Hal terakhir yang perlu diingat adalah bahwa kontrak bisnis yang melibatkan pihak dari negara berbeda juga harus dibuat diatas ketentuan hukum internasional. Oleh karena itu perlu diperhatikan ketentuan hukum internasional secara spesifik pada negara tempat kita membuat perjanjian tersebut.